Jumat, 21 Mei 2010

Tingginya Nilai Kasih sayang

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran:
- "Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu
    anak perempuanmu tersayang untuk makan."

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu,
tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi
berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India = curd rice). Sindu anak
yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia
sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno,
mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect".

Aku mengambil mangkok dan berkata:
- "Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd
    rice ini?
    Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah."

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis
Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata: 
- "Boleh ayah akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa
    sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..." 
    agak ragu2 sejenak... "....akan minta sesuatu sama ayah bila habis
    semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku? "

Aku menjawab: "Oh, pasti sayang".

Sindu: "Betul ayah?"

- "Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan
    dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk
tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "janji" kata
istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata:
- "Sindu, jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah,
    karena ayah saat ini tidak punya uang."

Sindu: "Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok."

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat
menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam
hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan
sesuatu yang tidak disukainya..

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata
penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju
kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu!

Istriku spontan berkata: "Permintaan gila, anak perempuan dibotakin,
                           tidak mungkin!"

Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu
banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: "Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami
                     semua akan sedih melihatmu botak."

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya: - "Tidak ada 'yah, tak ada
                                        keinginan lain."

Aku coba memohon kepada Sindu:
- "Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!"

Sindu, dengan menangis, berkata:
- "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi
    susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan
    aku. Kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? 
    Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus 
    memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti
    Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi
    janjinya raja real memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa
    anaknya sendiri."

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku: - "Janji
kita harus ditepati.."

Secara serentak istri dan ibuku berkata: - "Apakah aku sudah gila?"

Aku: "Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah
       belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu 
       permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan
bagus.

Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu
botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil
tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak: - "Sindu,
tolong tunggu saya."

Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak, aku berpikir
mungkin "botak" model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan
berkata: - "Anak anda, Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan
bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita
kanker leukemia."

Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya
mulai meleleh dipipinya:
- "Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy
kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut
diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, minggu lalu Sindu datang ke rumah
dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin
terjadi. Hanya, saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau
mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri
tuan sungguh diberkati Tuhan, mempunyai anak perempuan yang berhati
mulia."

Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat
kecilku, tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih!

Ingin Bisnis / Usaha / Produk Anda di Review?
Hubungi saya melalui email : surya26com@gmail.com atau kontak person yang tertera di sidebar, Saya siap memberikan review Bisnis / Usaha / Produk Anda. Semoga bisa memberikan manfaat dan sukses selalu untuk Anda.

Artikel Terkait

Blogger Pekanbaru kelahiran Medan, bukan apa-apa, cuma pengen belajar dan mengembangkan diri (bukan nggemukin)

1 komentar yang sudah masuk...

salam hangat sahabatku, apa kabar di pagi ini..?

Tinggalkan Komentar dan mari kita saling menjaga silahturahmi, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat..aminn
EmoticonEmoticon