Jumat, 05 Juli 2019

Kisah seorang pemuda yang ditunda kematiannya oleh Allah SWT


Bismillahirrohmaanirrohiim.
Pada kesempatan ini izinkan saya bercerita sedikit tentang kejadian yang jarang sekali saya ceritakan pada siapapun saat detik-detik suami saya sedang di ICU.
Semoga bukan riya, semata-mata agar diambil pelajaran bagi siapa saja.
------
Dulu, saat suami masih menanggung kerugian hutang, setiap pendapatan yang diterima setiap bulan secara garis besar kami bagi 4, persentasenya beda2, diantaranya:
1. Kebutuhan pokok (termasuk untuk orang tua dan biaya anak2 kami sekeluarga)
2. Sedekah
3. Bayar hutang
4. Tabungan
Kenapa sedekah? Karena kami tahu, sesuatu yg mustahil dilunasi karena besarannya yg banyak, ga bisa dengan jalan yg biasa. Kalo dg cara biasa butuh waktu 64 tahun mencicil sampai hutang lunas. Karena perlu cara yg luar biasa diluar logika manusia--> sedekah. Ulasannya banyak di status2 kami sebelumnya. 😊🙏
Kenapa mesti nabung? Karena saya sadar, kami tidak punya asuransi. Asuransi kami ya asuransi langit, sedekah agar dijauhkan dr bala. Dan bentuk realnya ya tabungan. Dimana saat kami butuh sesuatu yg mendesak, pantang untuk meminta atau meminjam ke orang lain, sehingga kami bisa mengandalkan tabungan. Anak-anak pun menjadi prioritas kami. Jangan sampai ketika mereka sudah besar dan membutuhkan biaya sekolah kami kewalahan. Oleh karenanya tidak apa-apa saat ini kami mengencangkan ikat pinggang, membeli hanya yg dibutuhkan, bukan sekedar yg diinginkan.
Contohnya pada saat suami sakit. Biaya yg dikeluarkan cukup banyak, sangat banyak malahan.
Seluruh tabungan kami terkuras habis. Biaya RS dan obat plasmapharesis selama 7 minggu di RS kurang lebih menghabiskan 590 jutaan. Dan obat imunoglobulin kami beli dr luar rumah sakit kurang lebih menghabiskan 180 jutaan waktu itu. Kurang lebih 770 jutaan habis hanya untuk biaya obat dan rumah sakit pure dari tabungan karena kami tidak punya asuransi. 🙏Banyak yg menyalahkan saya bodoh karena tidak punya asuransi. Namun saya yakin suami yg keukeuh tidak mau pakai asuransi pasti punya pertimbangan khusus.
Hari itu plasmapharesis yg ke 12 kalo tidak salah. Dokter sudah mewanti-wanti, kalo dengan cara imunoglobulin danplasmapharesis serta pemasangan jalur nafas lewat tenggorokan tetap tidak berhasil, dokter angkat tangan. Bayangkan gimana hancurnya saya saat itu. Melihat anak masih kecil, hutang yg belum selesai, dan suami yg terkapar setengah mati. Boro-boro mikirin makan, ga penting besok lusa bisa makan atau enggak, yg saya pikirkan adalah apa yg bisa merubah suami saya sehat kembali.
Waktu itu, saya minta maafkan ke beberapa orang yg menurut saya suami punya salah. Siapa tahu penyakit ini diturunkan karena doa orang-orang yg pernah tersakiti oleh suami. Sayang sekali, saya kembali dipanggil ke ruangan ICU dan dokter bilang 20% kemungkinan hidup lagi. Degh!! Ya Allah... 😭😭
Saya berfikir apa yg saya belum lakukan?
Kurang apa lagi? Ikhtiar apa yg saya lewatkan?
Sampai ketika saya termenung saya ingat, ada suatu cerita tentang Nabi Ibrohim dengan seorang pemuda.
👇👇👇 Berikut ceritanya 👇👇👇
Kematian memang di tangan Allah. Tetapi mempercepat dan melewatkan kematian adalah hak Nya juga. Maka ada satu perkara yang boleh membuat kematian menjadi sesuatu yang boleh ditunda. Bagaimana caranya dan mengapa boleh terjadi?
Kisah ini benar-benar terjadi pada masa kenabian Ibrahim a.s. Suatu hari, Malaikat Kematian mendatangi Nabi Ibrahim, dan bertanya, “Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?”
“Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”
“Ada apa dia datang menemuimu?”
“Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan perkahwinannya esok pagi.”
“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai esok pagi.” Selesai berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan Nabi Ibrahim. Hampir saja Nabi Ibrahim tergerak untuk memberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan perkawinannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabi Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah.
Esok paginya, Nabi Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap boleh melangsungkan perkawinannya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabi Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya.
Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabi Ibrahim bertanya kepada Malaikat Izrail, apakah dia berbohong tempoh hari sewaktu memberitakan bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi?
Malaikat Kematian menjawab bahawa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah menahannya.
“Apa sebab yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?”
“Wahai Ibrahim, di malam menjelang perkawinannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup.”
Kematian memang di tangan Allah. Justru itu, mempercepat dan melewat kematian adalah hak Allah. Dan Allah memberitahu pada Rasul-Nya, Muhammad bahwa sedekah itu dapat memanjangkan umur. Jadi, sesuatu yang dapat menunda kematian, itu adalah…sedekah.
------
Degh!! Siang itu sepulang dari mengambil uang di bank karena tagihan RS, saya kembali terhenyak. Ya Allah... dapatkah dengan sedekah itu memanjangkan umur suami?
Hati saya terhenyak, setengah bingung karena di rekening tinggal 70 jutaan lagi. Padahal saya sudah diwanti-wanti oleh dokter, jika mas dewa dapat melewati masa kritis, mesti 'pesantren' dulu di RS sampai dapat berjalan, dan waktunya tidak sebentar. Belum lagi biaya teraphi dan lain-lain.
Namun sore itu saya minta izin sama suami. "Yah, izinin Bunda sedekahin uang itu ya...? Mudah-mudahan Allah ridho dan jd wasilah kesembuhan Ayah."
Dia hanya menangis tanpa suara, tanpa ekspresi. Lelehan air matanya dan kedipan lemahnya cukup menjadi tanda persetujuan buat saya.
----- singkat cerita Alhamdulillah, suami kini bisa bersama lagi. Eh malah Allah kasih bonus dede Jasmine yg lucu menggemaskan diantara kami. 😇🥰
Nah apa ibrohnya?? 💖
Ibroh/pelajarannya,
PERTAMA, Cerita akan menjadi sekedar cerita jika tidak kita praktekan atau amalkan.
KEDUA, Apakah mas Dewa bisa sembuh karena sedekah? Wallahualam. Mas Dewa masih memiliki Ibu yang begitu sayang luar biasa, doanya menembus langit. Masih memiliki mertua (Abah Mamah) saya yg tak lagi menganggapnya menantu namun seperti anak sendiri. Doanya insya Allah makbul juga, dan pasti didengar Allah. Tak lupa teman-teman seperjuangan mas Mirza, kang Rizal, dan temen2 lain yg ga bisa saya sebutin satu persatu. Doa mereka pasti Allah jadikan pertimbangan yg begitu besar.
KETIGA. Sedekah hanyalah salah satu wasilah terkecil yg bisa saya lakukan saat itu. Betapa bodohnya saya, hamba yg tidak tahu diri ini, bertransaksi dg Allah, membarter uang yg tidak seberapa dengan nyawa. Padahal Allah Maha kaya, ga butuh tabungan saya yg ga lebih banyak dr setetes air di lautan kekayaannya. Namun saya yakin Allah melihat, betapa kesungguhan itu ada, dan bersedekah dg harta terakhir mungkin jd pertimbangannya.
KEEMPAT. Jika cerita tentang Nabi ibrohim itu benar, dan saya merasakan sendiri. Coba teman-teman pikirkan. Jika mengulur waktu kematian saja MUDAH bagi Allah dikarenakan sedekah, maka tentu saja akan sangat mudah bagi Allah :
- menyembuhkan hari ini yg sedang sakit menjadi sehat.
- Yang sedang menunggu keturunan menjadi hamil.
- Yang sedang dihimpit musibah menjadi selesai musibahnya.
- Yang sedang ingin mengumrohlan orang tua
- Yang sedang ingin punya rumah
- Yang sedang ingin berhasil dalam usahanya.
👉👉 Maka dari itu, jika ada kesempatan bersedekah jangan ditunda-tunda. Ga harus besar, semampunya saja. Allah tidak menilai nominalnya, namun insya allah Dia mampu menilai sejauh mana kesungguhan hati kita. 😇
Terkahir dari saya, bahwa keajaiban itu perlu dijemput, bukan hanya ditunggu. Salah satunya melalui wasilah sedekah.
-----
Nah, info aja ini mah. Suami saya lagi ngadain GIVE AWAY UMROH, awalnya 3 tiket dan hadiah 40 juta rupiah. Namun karena energi kebaikan itu menular, sekarang kabarnya sudah hampir 10 tiket umroh. Dan denger2, beberapa kelompok patungan buat ngasih tiket umroh ini. Masya allah, otot berbaginya luar biasa.
Nah temen-temen disini, yakin ga ngiler sama peluang baik ini???
Yakin ga pengen kecipratan pahalanya??? 😍
Kalo saya sih ngiler pengen ikutan kebagian pahalanya.
Terlebih saya banyak dosa. Mudah-mudahan Allah ampuni semua dosa-dosa saya di masa lalu, sekarang, dan yg akan datang. Aamiin 😇😇
----
Pict: ini mas dewa yg sudah keluar ICU dan 'pesantren' di kamar kelas 3 RS hermina yg 1 kamarnya bisa 3 pasien. Aduh saya udah ga punya uang saat itu. 🙈 Namun saya bahagia, karena saat itu, jikalaulah pada saat itu waktunya mas dewa dipanggil, DITANGGUHKAN oleh Allah, dan masih bisa bersama saya dan anak2 hingga kini 😇. Masya allah... Fabiayyiala irobbikuma tukadzibaan..



Sumber inspirasi : https://www.facebook.com/wiwinsupiyah/posts/10213518697671565
Youtube : kang Dewa Eka Prayoga
Inspirasi buat Blog Owner dan Pembaca semua

Ingin Bisnis / Usaha / Produk Anda di Review?
Hubungi saya melalui email : surya26com@gmail.com atau kontak person yang tertera di sidebar, Saya siap memberikan review Bisnis / Usaha / Produk Anda. Semoga bisa memberikan manfaat dan sukses selalu untuk Anda.

Artikel Terkait

Blogger Pekanbaru kelahiran Medan, bukan apa-apa, cuma pengen belajar dan mengembangkan diri (bukan nggemukin)

This Is The Newest Post

Tinggalkan Komentar dan mari kita saling menjaga silahturahmi, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat..aminn
EmoticonEmoticon