Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Maret 2011

Apa yang kita sombongkan?



Sorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras.Menyaksikan keganjilan ini, orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?"

Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah,sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebihrupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita
merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun
sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal
ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi
makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?
Be happy!

Sumber: Kiriman dari pak Beng Hui 
Gambar: Sahabatamal.com

Rabu, 09 Maret 2011

Nasihat Pernikahan dari Sang ibu


Sering kita lihat saudara kita bersedih luruh
Setelah itu berlalu, ia berjingkrak kegirangan

Ada nasehat yang sangat dalam, yang diambil dari wanita-wanita arab. Nasehat itu adalah nasehat Umamah binti Harits kepada putrinya, Ummu Iyas binti Auf, pada malam pernikahannya. Diantara nasehat-nasehatnya adalah :

"Putriku, sesungguhnya engkau telah memisahkan diri dari "lingkungan" yang darinya engkau keluar. Engkau telah meninggalkan kehidupan yang darinya engkau berkembang. Seandainya seorang perempuan tidak membutuhkan seorang suami, karena kecukupan dari orangtuanya dan kebutuhan orang tua yang sangat pada anaknya, maka engkau menjadi orang yang sangat tidak membutuhkan suami. Namun wanita diciptakan untuk laki-laki dan baginya laki-laki tercipta."

Nasehat yang pertama dan yang kedua adalah : Engkau harus rendah hati dengan senantiasa bersikap menerima dan, selalu mendengarkan dan taat kepadanya.

Nasehat yang ketiga dan yang keempat adalah : Hendaklah engkau menjaga kebersihan sesuatu yang kepadanya hidung dan mata suami tertuju. Jangan sampai ia melihat kejelekan ada pada dirimu, dan jangan sampai ia menciummu kecuali engkau dalam keadaan wangi.

Nasehat yang kelima dan keenam adalah : Hendaknya engkau selalu siapkan waktu tidur dan makan baginya. Karena kelaparan akan membuatnya garang dan kekurangan tidur akan membuatnya mudah marah.

Nasehat yang ketujuh dan kedelapan : Hendaklah engkau menjaga hartanya, memelihara kehormatan dan putra-putrinya. Dapat mengurus harta adalah sebuah perhitungan yang baik dan dapat mengurus anak adalah kemampuan mengatur yang baik.

Nasehat kesembilan dan kesepuluh : Janganlah engkau melanggar perintahnya. Janganlah engkau melanggar perintahnya, Janganlah engkau menyebarkan rahasianya. Jika engkau menentang perintahnya, maka membuat hatinya dongkol. Jika engkau menyebarkan rahasianya, maka engkau tidak bisa menjaga kehormatannya.

Kemudian hendaklah engkau tidak tampak senang di hadapannya mana kala ia sedih. Tidak pula engkau bersedih ketika ia dalam keadaan berbunga-bunga.

Pencerahan : Kebahagiaanmu bukan di tangan orang lain, tapi ditanganmu sendiri.


sumber : Menjadi wanita paling bahagia, DR. Aidh Al-Qarni
gambar: http://niedza.files.wordpress.com/2010/10/isafatin.jpg?w=348&h=209

Minggu, 27 Februari 2011

Pikiran sehat saat tubuh kita sakit



Hari ini jutaan orang masih berbaring dan tersebar disemua rumah sakit di seluruh dunia. Hal itu disebabkan oleh terjadinya gangguan kesehatan yang mereka alami.  Mereka menunggu datangnya kesembuhan. Masa penantian itu bisa berlangsung dalam hitungan hari, minggu, bulan, bahkan ada yang tahun. Sebagian pasien meninggalkan rumah sakit karena dinyatakan sembuh, sebagian karena tak mampu meneruskan biaya perawatan dan sebagian lagi karena dinyatakan meninggal.

Pada awalnya, ketika mereka pergi ke dokter untuk memeriksakan gangguan kesehatan yang mereka alami, dokter menanyakan keluhan fisik yang dialami. Dengan stetoskopnya, dokter mendiagnosis penyakit yang diderita sehubungan dengan keluhan fisik pasien.  Tidak semua keluhan terungkap, karena sebagian masih disimpan dalam pikiran. Memang benar, bila kita memeriksakan gangguan kesehatan, apa yang bisa kita sampaikan hanya sebatas keluhan fisik semata, sementara apa yang menjadi beban pikiran adalah urusan kita sendiri.

Faktanya, pada saat kita dinyatakan mengindap penyakit ini atau itu, pikiran kita langsung ikut jatuh sakit. Itulah salah satu penyebab mengapa banyak orang mengalami gangguan kesehatan yang semakin memburuk. Pikiran mereka terperangkap dalam tubuh yang sakit.  Kata “sembuh” terasa jauh dari kenyataan, meski kita telah berusaha semaksimal mungkin dengan “membeli kesembuhan” bahkan mungkin hingga ke luar negeri.

Fenomena Pikiran Sehat.
Semua orang yang pernah mengalami jatuh sakit pasti tahu kemana harus mencari kesembuhan. Pada umumnya mereka pergi ke dokter dengan biaya yang bisa disediakan. Bila para dokter spesialis sudah “angkat tangan” atas penyakit yang diderita pasien,  maka para pasien mulai berpikir tentang pengobatan alternatif. Hal yang sama juga dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki biaya.
Pengobatan tradisional hingga mungkin sampai dengan perdukunan menjadi pilihan. Semua upaya itu bersumber dari keinginan kita untuk sembuh.  Sembuh telah menjadi beban pikiran yang paling dominan dibandingkan hal-hal lain yang mulai diabaikan.  Tak pernah terpikir bahwa dari dalam diri kita juga bersemayam sang penyembuh alternatif,  yaitu pikiran kita sendiri. Sayang sekali,  pikiran  sudah  terperangkap  dalam  tubuh  jasmani yang sakit.Lalu, bagaimana sebaiknya ?  tentu saja dengan menyehatkan pikiran terlebih dahulu.  Kesulitan tubuh jasmani dalam meraih kesembuhan disebabkan oleh cara kerja pikiran kita yang secara alami tak terkendali.  Pikiran akan menjadi sehat bila orang tidak menggunakan pikiran untuk menjelajahi masa lalu dan juga mencemaskan masa yang akan datang, melainkan membiarkan masa kini, atau hari ini, bahkan sebatas momentum saat ini saja yang mengisi pikiran kita.  Apa yang sedang berlangsung dalam momentum saat ini, tak lain adalah fakta bahwa kita masih hidup, masih ada, dan hal itu ditandai dengan aktivitas kita saat bernapas.

Dari keinginan menjadi beban
Setiap orang sakit menginginkan kesembuhan. Keinginan yang begitu kuat itu lambat laun tanpa disadari telah menjadi beban pikiran, sebab kesembuhan itu ada di masa yang akan datang, yang tidak bisa dipastikan kapan dan bagaimana hal itu akan terjadi.  Dengan kata lain, kesembuhan yang didambakan itu belum nyata karena masih berada di masa yang akan datang. Dalam waktu yang singkat, pikiran bisa meloncat kebelakang  tanpa terkendali, lalu mengaduk-aduk masa lalu. Kemudian seseorang menyesali beberapa hal dan mulai membencinya karena menjadi penyebab kondisi sakitnya.
Kita menyalahkan sesuatu atau seseorang pada masa lalu.  Jika dua cara pikir itu berpadu memasuki momentum hari ini, maka pada hari ini pikiran telah terjepit dua kekuatan negative yang akan semakin memperparah tubuh yang sedang sakit.    Dua kekutan negative itulah yang mengakibatkan pikiran menjadi tidak sehat.   Jika kita adalah orang sakit yang sedang membaca tulisan ini, disarankan untuk memutus hubungan antara pikiran kita  dengan jalur yang menghubungkan dengan dua kekuatan negative dari masa lalu dan masa yang akan datang.Kedua masa itu tidak nyata. Kita tidak dapat menarik, mengulang atau memperbaiki masa lalu, selain itu, tak seorangpun tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, karena masa itu belum tiba.  Realitas yang sebaiknya kita hadapi adalah realitas hari ini, dimana kita masih ada, masih hidup, namun tubuh kita sakit.Dari kesadaran itulah, kita mulai bersyukur.  Pikiran kita akan berangsur-angsur sehat.  Penyakit yang disebutkan dokter hanya berkaitan dengan prosedur penentuan obat, tidak ada hubungannya dengan vonis atas nasib kita.  Jika kita bertanya kepada orang bijak, maka apapun yang kita alami hanya akan disebut sebagai gangguan kesehatan.  Keinginan untuk sembuh tak perlu kita bawa berhari-hari hingga berbulan-bulan sebagai beban berat karena Tuhan sudah tahu apa yang kita inginkan.

Setia pada perkara kecil
Sangat jarang orang menggunakan pikirannya untuk mensyukuri keberadaan hidup pada hari ini, apalagi dalam keadaan sakit.  Jika kita adalah orang yang terperangkap dalam tubuh jasmani yang sakit, ada baiknya mulai membangun kebiasaan memikirkan momentum yang nyata, yaitu kita masih hidup, ditandai dengan napas yang masih kita miliki.Bernapas tanpa memikirkan hal lai adalah proses menyehatkan pikiran, bagaimanapun kondisi tubuh kita, sehat atau sakit.  Bila kita bisa mensyukuri napas yang masih kita miliki selama satu jam dalam sehari saja,  kita telah berhasil memulihkan kemurnian pikiran kita.
Lalu bagaimana dengan penyakit yang ada dalam tubuh kita ?  Tuhan akan bekerja melalui kemurnian pikiran kita saat kita hanya berpikir soal napas yang sedang berlangsung, dan dengan prose itu kita tidak akan ditarik biaya apapun, karena oksigen yang kita nikmati adalah milik Tuhan.  Jika kita dianjurkan disiplin minum obat tiga kali sehari selama sakit, ada baiknya mencoba untuk disipin melakukan aktifitas tunggal bernapas tiga kali sehari, masing-masing selama 10 hingga 15 menit tanpa berpikir yang lain kecuali napas kita.
Bernapas sebagai  aktifita tunggal  adalah sebuah perkara kecil, namun bila kita setia melakukannya, pikiran kita akan sehat dan kemurniannya akan mempengaruhi miliaran mikron sel dalam tubuh yang setiap hari mati dan berganti dengan sel-sel yang baru.  Sebagaimana kita tidak perlu memikirkan dari mana datangnya sel-sel baru itu, kita juga tidak perlu memikirkan datangnya kesembuhan, pikiran kita tidak akan mampu melihat keajaiban Tuhan di balik napas kita yang murni.

Efek samping dari aktifitas ini adalah kondisi tubuh yang semakin membaik, hari demi hari.  Kita hanya diminta setia mengikuti proses ini, seperti menginstal software bernama “sembuh” melalui pikiran kita.  Kita tidak perlu berpikir bagaimana hal itu berlangsung, karena berturut-turut tinggal menekan tombol bertuliskan “next” sampai proses “instalasi” itu selesai.  Software itulah yang berkerja untuk kita.

Banyak pula orang berpikir bahwa kesembuhan datang dari luar tubuh kita, padahal bila kita memperhatikan, … berasal dari dalam diri si sakit sendiri, apa pun penyakitnya, ini lah pula yang pantas kita renungkan, sebelum penyakit menguasai alam pikir kita.

Oleh : Ign. Bambang Shakuntala,
Penulis buku Sebelum Anda Dinyatakan Sembuh,  buku untuk orang sakit.  

Gambar : wanitadankesehatan.blogspot.com
(Disari dari Majalah Utusan  No. 02 Tahu ke-61 Februari 2011)

Jumat, 14 Januari 2011

Ada potensi Unggul dalam diri kita



Melanjutkan tulisan saya yang terdahulu, yang berjudul “ Aku adalah Seorang Pemenang “. Disini saya ingin melanjutkan kembali tulisan ini dengan judul “ Ada Potensi Unggul di Dalam Diri Kita “

Dewasa ini sering kita mendengar di media massa berita-berita mengenai orang-orang yang langung putus asa ketika hanya menghadapi sedikit kesulitan. Menjadi orang stress karena gagal ujian CPNS, melamar jadi Polisi ataupun lainnya, yang akhirnya menyebabkan menjadi pasien rumah sakit jiwa. Sungguh ironis.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi ? coba kita amati bersama-sama. Sebagian besar dari orang-orang yang gagal tersebut (kita sepakat menyebut mereka orang-orang gagal) tidak menyadari adanya potensi unggul dalam diri mereka. Seharusnya semakin kita dewasa tentu kita semakin banyak mendapat pengalaman. Pengalaman yang telah memberikan pelajaran-pelajaran berharga dalam bertahan hidup. Namun yang terjadi adalah semakin kita dewasa kita cenderung begitu gampang menyerah, pesimis dan berpikir negatif. Seharusnya semakin kita dewasa maka potensi-potensi unggul  yang ada dalam diri kita semakin berkembang, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Oh ya..sedari tadi kita berbicara mengenai masalah potensi unggul. Sebenarnya apa sih sebenarnya potensi unggul itu? Kenapa hal tersebut perlu, karena tentu akan sia-sia pembahasan kita ini bila kita sendiri tidak faham (istilah dalam bahaa Jawa “ora mudeng”). Potensi unggul itu adalah kemampuan alami yang Tuhan berikan kepada manusia sejak lahir (Dari berbagai sumber).

Secara sederhana begini, coba kita amati bayi dalam pertumbuhan dan perkembangannya, pada bulan pertama bayi hanya bergerak secara rileks saja. Pada bulan-bulan berikutnya bayi mulai dapat mengangkat kepalanya dengan posisi telungkup, kemudian sudah bisa memiringkan badan kekiri-kekanan. Selanjutnya, sang bayi sudah bisa duduk, berdiri, berjalan dengan berpegangan, berjalan sendiri hingga bisa berlari. Coba kita perhatikan, apakah setiap melewati fase-fase tersebut sang bayi menyerah ketika gagal ? tentu tidak. Sang bayi akan terus berusaha walau kegagalan berulang kali ketika ia belajar untuk telungkup,duduk, berdiri ataupun berlari sampai ai berhasil melakukannya. Itulah potensi unggul manusia.

Sekarang mengapa kita yang telah dewasa ini tidak mampu seperti bayi tersebut ? mungkin ada yang jawab “ klo bayi kan tidak memiliki pikiran seperti kita orang dewasa, tanpa ada pertimbanan-pertimbangan tertentu” atau “ proses tersebut kan memang sudah alamiah sang bayi” dan sebagainya. Banyak hal-hal yang menjadi alasan untuk pembenaran.

Pertanyaannya adalah, mengapa semakin kita dewasa potensi unggul kita semakin menurun/lemah?. Karena kita masing –masing pribadi tidak merespon setiap kejadian yang kita lewati secara positif!. Saat gagal, kita meresponnya dengan negative. Selalu mengkerdilkan diri dengan berpikir bahwa kita tidak mampu, saya memang orang yang dilahirkan untuk gagal dan seterusnya.

Kita jangan pernah lupa selain didalam diri kita terdapat benih seorang pemenang, Sang Pencipta juga memberikan potensi unggul kepada manusia dengan harapan-Nya kita mampu menjadikan potensi unggul tersebut terus tumbuh dan berkembang. Orang –orang Luar biasa yang namanya terus tercatat dalam sejarah perjalanan manusia adalah orang-orang yang mampu mengelola potensi unggul tersebut dengan bijak.

Kembangkan potensi unggulmu dengan bijak dan arif, maka diri kita akan dibariskan dalam golongan-golongan orang-orang yang luar biasa !

(Keep Moving Forward) . By: Sandro RS

Selasa, 11 Januari 2011

Tuhan Itu tidak ada



Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu, ada".
"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.
"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku,  jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang tidak membiarkan ini semua terjadi."
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak,  tapi tidak merespon, karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.  Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu, dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker - istilah jawanya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata," Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."
Si tukang cukur tidak terima," Kamu koq, bisa bilang begitu?? Saya di sini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"
"Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan. "Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur. "Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.
"Cocok!" kata si konsumen menyetujui. "Itulah point utamanya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA!, Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU  DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia  ini."
Si tukang cukur terbengong !!!!. ..sebuah analogi yang mengagumkan. (gambar: google)

Minggu, 09 Januari 2011

Sebuah Renungan tentang KESUKSESAN



Sukses itu sederhana, sukses tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya,
sukses itu tidak serumit/serahasia seperti kata kiyosaki/tung desem
waringin/the secret, sukses itu tidak perlu dikejar, SUKSES adalah ANDA!
karena kesuksesan terbesar ada pada diri Anda sendiri...

Bagaimana Anda tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi
1 ovum, itu adalah sukses pertama Anda!

Bagaimana Anda bisa lahir dengan anggota tubuh sempurna tanpa cacat,
itulah kesuksesan Anda kedua...

Ketika Anda ke sekolah bahkan bisa menikmati studi S1 di saat tiap
menit ada 10 siswa drop out krna tidak mampu bayar SPP, itulah sukses
Anda ketiga...

Ketika Anda bisa bekerja di perusahaan bilangan segitiga emas, di saat
46 juta orang menjadi pengangguran, itulah kesuksesan Anda keempat...

Ketika Anda masih bisa makan tiga kali sehari, di saat ada 3 juta org
mati kelaparan setiap bulannya itulah kesuksesan Anda yang kelima...

Sukses terjadi setiap hari, Anda tidak pernah menyadarinya. ..

Anda akan  sangat tersentuh ketika menonton film Click! yg dibintangi Adam
Sandler, "Family comes first", begitu kata2 terakhir kepada anaknya
sebelum dia meninggal...
Sakin sibuknya di Adam Sandler ini mengejar kesuksesan, ia sampai
tidak sempat meluangkan waktu untuk anak & istrinya, bahkan tidak
sempat menghadiri hari pemakaman ayahnya sendiri, keluarga nya pun
berantakan, istrinya yang cantik menceraikannya, anaknya jadi ngga
kenal siapa ayahnya...

Sukses selalu dibiaskan oleh penulis buku laris supaya bukunya bisa
terus2an jadi best seller dengan membuat sukses mjd hal yg rumit dan
sukar didapatkan.. .
Sukses tidak melulu soal harta, rumah mewah, mobil sport, jam Rolex,
pensiun muda, menjadi pengusaha, punya kolam renang/helikopter, punya
istri cantik sprti Donald Trump, & resort mewah di Karibia...

Sukses adalah mencintai & bangga terhadap diri Anda sendiri,
mengerjakan apa yang Anda sukai kapan saja dan di mana saja....

Sukses sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan,
sukses yang sejati adalah menikmati & bersyukur atas setiap detik
kehidupan Anda, pada saat Anda gembira Anda, gembira sepenuhnya,
sedangkan pada saat Anda sedih, Anda sedih sepenuhnya, setelah itu
Anda sudah harus bersiap lagi menghadapi episode baru lagi.

Sukses sejati adalah hidup benar di jalan Allah, hidup baik, tidak
menipu, apalagi scam, saleh & selalu rendah hati,

Sukses itu tidak lagi menginginkan kekayaan ketimbang kemiskinan,
tidak lagi menginkan kesembuhan ketimbang sakit, sukses sejati adalah
bisa menerima sepenuhnya kelebihan, keadaan, dan kekurangan Anda apa
adanya dengan penuh syukur.

Pernahkah Anda menyadari?

Anda sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang uang hanyalah
alat tukar, Anda sebenarnya membeli rumah dari waktu Anda.

Ya, Anda mungkin harus kerja siang malam utk bayar KPR selama 15 tahun
atau beli mobil/motorkan kredit selama 3 tahun.

Itu semua sebenarnya Anda dapatkan dari membarter waktu Anda, Anda
menjual waktu Anda dari pagi hingga malam kepada penawar tertinggi
untuk mendapatkan uang supaya bisa beli makanan, pulsa telepon dll...
Aset terbesar Anda bukanlah rumah/mobil Anda, tapi diri Anda sendiri,

Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat dari
orang bodoh... Semakin berharga diri Anda, semakin mahal orang mau
membeli waktu Anda...

Itu sebabnya kenapa harga 2 jam-nya Kiyosaki bicara ngalor ngidul di
seminar bisa dibayar 200 juta ato harga 2 jam seminar Pak Tung bs
mencapai 100 juta!!!
Itu sebabnya kenapa Nike berani membayar Tiger Woods & Michael Jordan
sebesar 200 juta dollar, hanya untuk memakai produk Nike.
Suatu produk bermerk mjd mahal/berharga bukan karena merk-nya, tapi
karena produk tsb dipakai oleh siapa...


Itu sebabnya bola basket bekas dipakai Michael Jordan bisa terjual 80
juta dollar, sedangkan bola basket bekas dengan merk sama bila kita jual
harganya justru malah turun...

Hidup ini kok lucu, kita seperti mengejar fatamorgana, bila dilihat
dari jauh, mungkin kita melihat air/emas di kejauhan, namun ketika
kita kejar dengan segenap tenaga kita & akhirnya kita sampai, yang kita
lihat yah cuman pantulan sinar matahari/corn flakes saja ternyata...

Lucu bila setelah Anda membaca tulisan di atas Anda masih mengejar
fatamorgana tsb ketimbang menghabiskan waktu Anda yg sangat berharga
untuk sungkem sama orangtua yg begitu mencintai Anda, memeluk hangat
istri/kekasih Anda, mengatakan "I love you" kepada orang-orang  yang anda cintai:
orang tua, istri, anak, sahabat-sahabat Anda.

Lakukanlah ini selagi Anda masih punya waktu, selagi Anda masih
sempat, Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan meninggal, mungkin
besok pagi, mungkin nanti malam, LIFE is so SHORT.

Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan hobi Anda, entah itu
bermain bola, memancing, menonton bioskop, minum kopi, makan makanan
favorit Anda, berkebun, bermain catur, atau berkaraoke.. .

Enjoy ur life, life is so short...

Kamis, 30 Desember 2010

Aku adalah Seorang Pemenang

SuryaPost.com - Biasanya setiap pagi kira-kira jam 07:00 sebelum memulai aktifitas kerja diperusahaan ditempat saya bekerja atasan selalu melakulan briefing kecil untuk memberikan pengarahan kepada kami sebagai bawahannya. Menurut saya hal yang dilakukan atasan tersebut sangat tepat agar koordinasi kerja tercipta dalam team.


Suatu hari, ada hal yang sangat membuat saya benar-benar tersentuh dengan pengarahan yang diberikan atasan saya (bukan berarti arahan yang lain tidak menarik,hehehe..) yaitu sebuah ucapan yang mengatakan bahwa kita semua dilahirkan sebagai seorang PEMENANG. Dari awal permulaan penciptaan manusia dimulai melalui perjuangan berjuta-juta sperma yang berlomba-lomba untuk mencapai satu indung telur dan dari sekian juta sperma tersebut hanya satu yang menjadi pemenang dan berhasil membuahi sang telur yang pada akhirnya menghasilkan suatu kehiudupan dikemudian hari.

Berdasarkan pernyataan diatas, jelas terlihat bahwa proses pembetukan dari masing-masing pribadi manusia adalah hasil dari perjuangan yang luar biasa dan merupakan penyeleksian dari sebuah bibit seorang pemenang bukan seorang pecundang. Jadi, alasan apa yang mendasari kita untuk harus mengalah akan dunia ini?


Seringkali, manusia beralasan untuk mengutuki keadaan yang dialaminya. Mencari kambing hitam akan kondisi dirinya. Kemiskinan, kalah dalam persaingan, kurang supel, dan sebagainya. Seandainya sedari awal kita masing-masing pribadi menyadar potensi yang ada didalam diri kita yang begitu besar maka kata-kata hujatan akan terhindarkan.


Adalah Philippe Croizon, pria berusia 42 tahun yang dilahirkan dengan kondisi tanpa tangan dan kaki. Suatu headline Koran Prancis memuat berita yang sanagt positif., yaitu bagaimana perjuangan Croizon untuk menyebrangi selat inggris selama 13,5 jam untuk berenang melintasi selat sepanjang 20 mil (sekitar 33 Km) tanpa bantuan orang lain. Dan ini bukan satu-satunya aksi luar biasa yang dilakukan Croizon. Apa yang dilakukan oleh Croizon adalah untuk membuktikan bahwa keterbatasan tidak membatasi dirinya untuk melakukan apa yang dapat dilakukan orang-orang normal.


Perjuangan, harapan dan semangat yang gigih telah membutikan bayak orang unuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Trus, apa yang membedakan antara mereka dengan kita?


Ya, sekali lagi mereka adalah orang-orang yang mengerti dan menyadari bahwa didalam diri mereka terdapat semangat seorang pemenang yang telah sejak awal dikaruniakan Sang Pencipta dalam masing-masing pribadi. Sekarang tidak ada lagi alasan bagi kita semua untuk menjadi pribadi yang kalah. Begitu mudah untuk menciptakan mindset orang yang gagal, namun hanya sedikit orang yang mengerti bagaimana cara membuat potensi yang besar di dalam diri kita masing-masing menghasilkan kekuatan yang positif yang membawa perubahan.

Bangkitlah, katakana dengan tegas bahwa kita adalah pribadi seorang PEMENANG.!! By: Sandro RS

Jumat, 26 November 2010

The Difference Between Love and Like...

In front of the person you love your heart beats faster
But in front of the person you like you get happy.

In front of the person you love winter seems like spring
But in front of the person you like winter is just beautiful winter.

If you look into the eyes of the one you love you blush
But if you look into the eyes of the one you like you smile.

In front of the person you love you can't say everything on your mind
But in front of the person you like you can.

In front of the person you love you tend to get shy
But in front of the person you like you can show your own self.

The person you love comes into your mind every 2 minutes
You can't look straight into the eyes of the one you love
But you can always smile into the eyes of the one you like.

When the one you love is crying you cry with them
But when the one you like is crying you end up comforting.

The feeling of love starts from the eye
And the feeling of like starts from the ear.
So if you stop liking a person you used to like
All you need to do is cover your ears,
But if you try to close your eyes
Love turns into a drop of tear and remains in your heart forever after.

Rabu, 10 November 2010

Arti Suatu Peristiwa

Di suatu pagi di sudut kota yang mulai ramai lalu lalang kendaraan. Seorang pria tuna wisma yang sudah lanjut usia terlihat berusaha menyeberang jalan. Tubuh yang sudah renta berusaha berlari menyeberang jalan.

Di kejauhan, seorang pemuda terburu-buru berangkat bekerja dengan memacu kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi.  Dan pria tusna wisma yang masih berusaha menyeberang dengan kaki tuanya tak dapat menghindar saat pemuda mengendarai motor dengan kecepatan tinggi menabraknya. Pria tua itu meninggal di tempat.

Orang-orang yang berada di sekitar segera berkerumun. Sebagian berusaha membawa korban ke pinggir jalan dan sebagian ada yang hanya melihat saja karena takut untuk mendekat.

Dari kerumunan itu terdengar seorang ibu berkata,”Gara-gara motor ngebut, bapak tua itu jadi meninggal.”

Seorang bapak berguman,”Salahnya nyeberang ga cepat-cepat.”

Seorang gadis berbisik,”Kasihan ya, mengapa Tuhan membiarkan bapak tua itu meninggal dalam keadaan demikian?”

Salah seorang pedagang di pinggir jalan berkata,”Syukurlah kakek itu telah meninggal, karena kasihan kalau dia hidup lebih lama lagi. Sudah tidak punya keluarga yang mau mengurusinya. Entah kemana keluarganya. Kita doakan saja agar arwahnya diterima disisi-Nya.”

Dari percakapan di atas jelas bukan peristiwa yang memberi arti, melainkan arti diberikan kepada peristiwa. Berbagai macam arti yang diberikan kepada suatu peristiwa tergantung dan ditentukan oleh pikiran yang kita sampaikan kepada diri sendiri.

Bukan pengalaman, melainkan pikiran kita yang menentukan sikap dan arti hidup kita.

Kamis, 21 Oktober 2010

Tiga Kelereng Merah

Pada masa-masa susah di sebuah kota kecil Idaho, saya suka mengunjungi toko kecil di tepi jalan milik Mr Miller yang menyediakan produk segar hasil pertanian.
Makanan dan uang cukup langka pada waktu itu... dan jual beli dilakukan dengan cara tukar-menukar barang.
Satu hari, Mr Miller sedang mengepak kentang-kentang yang saya beli, ketika secara tidak sengaja saya melihat seorang anak yang kecil kurus kelaparan, compang - camping tetapi bersih, nampak sedang memilih-milih kacang polong segar yang baru dipetik di keranjang. Saya membayar untuk kentang-kentang saya sambil ikut melihat-lihat kacang polong tersebut. Saya adalah penjual kentang dan krim kacang.   Saat menimbang kacang polong, tanpa sadar, saya ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Halo Barry, bagaimana kabarmu hari ini ?"  tanya si pemilik toko.
'Halo, Mr Miller. Saya baik, terima kasih, ya. Saya cuma mengagumi kacang polong ini.... tampak segar dan bagus-bagus"
"Itu memang bagus Barry. Bagaimana dengan ibu kamu ? "
"Oh... dia membaik, dan nampak semakin kuat."
"Bagus. Apa ada yang bisa saya bantu ? "
"Tidak, Sir. Saya cuma mengagumi kacang polong ini. "
'Apakah kamu ingin beberapa untuk di bawa pulang ?"   kata Mr Miller.
"Tidak, Sir. Saya tidak ada uang untuk membayar. "
"Jika begitu, apa kamu punya sesuatu sebagai penukar ?"
"Saya hanya punya beberapa kelereng hadiah."
"Apakah itu benar ?  Coba kulihat" kata Mr Miller.
"Ini ... bagus "
"Aku bisa melihatnya. Hmm sayang warnanya biru,  padahal saya mencari warna merah. Apakah kamu memilikinya seperti ini di rumah ? "
"Tidak persis tapi hampir sama. "
'Begini saja. Ambil saja dulu kacang polong ini, dan lain kali, kamu bawa kelereng kamu yang merah' kata Mr Miller kepada anak itu.
"Tentu. Terima kasih Mr Miller. "
Ny Miller, yang sedang berdiri tidak jauh, datang  untuk membantu saya.  Dengan tersenyum dia berkata,  "Ada dua anak laki-laki lain seperti dia di komunitas kami, ketiganya sama-sama sangat miskin. Jim suka tawar-menawar dengan mereka untuk kacang polong, apel, tomat, atau apa pun. Jika mereka kembali dengan warna yang diminta, Jim akan berkata bahwa dia sudah tidak mencari warna tersebut dan akan menanyakan warna lainnya. Tetapi Jim tetap memberikan apa saja yang mereka ingin tukarkan."
Saya meninggalkan toko sambil tersenyum sendiri, terkesan dengan orang ini.
Beberapa waktu kemudian saya pindah ke Colorado, tapi saya tidak pernah lupa kisah tentang orang ini, anak-anak, dan cara barter mereka.
Beberapa tahun berlalu dengan cepat. Baru-baru ini saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi beberapa teman lama di komunitas Idaho dan mendengar bahwa          Mr Miller meninggal dunia.
Teman-teman saya berencana untuk berkunjung sore itu dan saya sepakat untuk ikut.
Saat tiba di tempat jenasah disemayamkan, kami menemui keluarga almarhum untuk menyampaikan bela sungkawa dan kata-kata penghiburan.  Di depan kami, nampak tiga orang muda. Salah satunya mengenakan seragam tentara dan dua lainnya berpotongan rambut bagus, setelan gelap dan kemeja putih ... semua tampak  sangat profesional.


Mereka semua menghampiri Mrs Miller dan berdiri disampingnya sambil tersenyum kepada jenasah Mr Miller di dalam peti mati.   Setiap pemuda memeluknya, mencium pipi, bicara singkat dengannya dan pindah ke peti mati, dengan mata berkaca-kaca, satu per satu, masing-masing pemuda berhenti sebentar dan meletakkan tangan mereka di atas tangan yang pucat dingin di peti mati. Satu persatu meninggalkan tempat itu sambil menyeka mata.  Giliran kami datang menemui Ny Miller. Saya bilang padanya siapa saya dan mengingatkannya pada kisah dari tahun-tahun yang lalu dan ketika ia bercerita tentang suaminya yang suka berbarter untuk kelereng. Dengan mata berkaca-kaca, dia meraih tanganku dan membawa saya ke peti mati.    
"Mereka, tiga pemuda tadi, yang baru saja meninggalkan adalah anak laki-laki yang kuceritakan dulu. Mereka hanya mengatakan kepada saya bagaimana mereka menghargai hal-hadl yang Jim 'perdagangkan' pada mereka. Sekarang, pada akhirnya, ketika Jim sudah tidak  bisa lagi meminta warna atau ukuran kelereng .... mereka datang untuk membayar utang mereka. "   'Kami tidak pernah memiliki banyak kekayaan di dunia ini, "ia mengaku," tapi sekarang, Jim akan menganggap dirinya orang terkaya di Idaho ..'     Dengan lembut, dia mengangkat jari-jari almarhum suaminya.  Nampak disitu tiga buah kelereng warna merah yang bersinar indah.


Moral : orang mungkin tidak akan mengingat semua perkataan kita, tapi akan selalu mengingat semua kebaikan kita. hidup ini tidak di ukur oleh nafas yang di habiskan, tapi waktu yang di habiskan untuk bernafas. apapun yang akan kita perbuat, berbuatlah dengan sepenuh hati, hanya untuk Tuhan, bukan untuk manusia.




(sumber : LN dari Ni Putu Maya)

Senin, 26 Juli 2010

kehidupan didunia ini yang hanya sekali, untuk ibadah dan kebaikan

Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, meski artikel ini sudah di post ribuan kali oleh sahabat-sahabat blogger, tak ada salahnya kita meramaikan suasana dan saling mengingatkan, neh kisah nya seperti ini :

Dahulu ada sebuah Kerajaan yang sangat
aman, rakyatnya makmur dan sentosa. Raja ini selalu memperhatikan dan
mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Sang Raja selalu berkeliling negeri untuk
melihat langsung kondisi rakyatnya.

Suatu Sang Raja mendengar rintihan seorang pemuda yang kelaparan. Si Ibu dengan
suara lemah mengatakan kepada anaknya bahwa dia sudah tidak memiliki lagi
persediaan makanan. Raja terkejutdi negerinya ada rakyatnya yang kelaparan.

Sang Raja berfikir sebentar. Kemudian dia membuat sebuah kesempatan untuk Sang
pemuda. Dia memerintahkan prajuritnya. untuk secara diam-diam membawa sang anak
ke istana ketika dia tidur, malam itu juga.

Ketika Pemuda itu tidur, secara diam-diam beberapa Prajurit membawa pemuda
tanpa sepengatahuan siapapun termasuk pemuda itu sendiri.

Raja ingin memberikan jabatannya sebagai Raja selama sehari untuk si pemuda
tersebut.Diaingin tahu apa yang akan dilakuakn si Pemuda.

Pagi harinya ketika terbangun dari tidurnya si anak heran, dimanakah dia
berada? Segera beberapa pembantu istana menjelaskan bahwa dia saat ini di
istana kerajaan dan diangkat menjadi Raja.
Para Pembantu istana sibuk melayaninya.Sementara itu di tempat terpisah si ibu
kebingungan dan cemas karena dia mendapati anaknya hilang dari rumahnya. Di carinya
kemana-mana tapi sang anak pujaan hati tetap tak ditemukannya. Siang harinya
sambil menangis dan bercucuran air mata si ibu pergi ke istana Raja untuk
meminta bantuan mencari anaknya ke pelosok negeri. Di gerbang istana si ibu
tertahan oleh Para Penjaga istana dan tidak diijinkan untuk bertemu dengan Raja.

Namun demikian, seorang Penjaga itu masuk ke dalam dan memberi tahu kepada Sang
Raja baru (Pemuda) bahwa di luar istana ada seorang ibu tua lusuh dan kelaparan
yang sedang mencari anaknya yang hilang. Sang Raja kemudian memerintahkan untuk
mensedekahkan satu karung beras kepada ibu tua miskin tersebut.

Malam harinya Sang Raja baru itu tidur kembali di kamarnya yang megah dan
mewah.Tengah malam, Sang Raja yang asli dengan Para Pembantunya secara diam-diam
kembali memindahkan pemuda yang sedang tidur lelap itu kembali ke rumah ibunya.

Esok pagi si ibu sangat gembira karena telah menemukan kembali anaknya yang
hilang kemarin. Sebaliknya si Pemuda heran kenapa dia ada disini kembali. Si
ibu bercerita bahwa kemarin dia mencarinya kesana-kemari hingga pergi ke istana
untuk minta bantuan, dan pulangnya dia diberi oleh Raja sekarung beras. Si Anak
segera menyadari bahwa dialah kemarin yang memberi sekarung beras itu.

Kemudian bergegas dia pergi ke istana dan menghadap Raja, dengan lugu dia minta
diangkat kembali menjadi raja. Walau cuma sehari .Sang Raja segera menolak
dengan mengatakan bahwa waktu/kesempatannya menjadi raja sudah habis.

Si Pemuda tetap memohon,sambil menghiba-hiba Pemuda itu minta hanya sejam saja
bahkan beberapa menit saja, tetapi Sang Raja tetap menolak

Sang Pemuda pulang dengan hati penuh penyesalan.Kenapa dia sangat kikir dulu,
seandainya dia dermawan maka tidak hanya sekarung beras yang dia kirim tetapi
mungkin berton-ton beras yang dia kirim.

~~~

Tahukah sahabat ?..

Itulah analogi kehidupan kita sekarang. Kelak di akhirat ada orang-orang
menyesal. Mereka tidak pernah beramal untuk akhirat. Mereka tidak pernah
mengirim beras ( pahala ) yang banyak untuk kampung akhirat mereka.

Mereka meminta kesempatan untuk kembali ke dunia, agar bisa beramal sebaik
mungkin... tapi, itu tidak mungkin... karna hidup hanya sekali.

Maka, mari kita optimalkan kehidupan didunia ini yang hanya sekali, untuk
ibadah dan kebaikan. Karena kita tidak tau kapan ajal menjemput kita. Bisa
saja, hari ini adalah hari terakhir kita... maka, kenapa kita masih saja
berbuat dosa, dan masih ragu dan malas tuk beribadah kepada-Nya?

Begitu banyak kasih sayang Allah Tuhan kita, dengan kasih sayang yang berbentuk
berbagai peringatan-peringatan yang datang kepada kita.

Ya, Mungkin tulisan ini adalah yang kesekian ribu peringatan kasih sayang-Nya....

Tinggal diri kita,... apakah akan kita abaikan peringatan dan kesempatan itu
hingga kesempatan itu habis?

...

Terimakasih sahabat telah membaca, semoga bermanfaat bagi kita semua...

sumber : syiar-islam@yahoogroups.com

Senin, 14 Juni 2010

Menjual Keperawanan

Dari milis tetangga tentang Kisah Nyata:
Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:
” Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang?
” Tidak! ” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
” Lantas untuk apa anda duduk disini?
” Apakah tidak boleh? ” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam.
” Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
” Maksud, bapak?
” Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”
” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang.
Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk disini untuk sesuatu yang akan saya jual ” Kata wanita itu dengan suara lambat.
” Jual? Apakah anda menjual sesuatu disini? ”
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
” Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”
” Saya ingin menjual diri saya, ” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
” Mari ikut saya, ” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum diwajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat korsi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
” Apakah anda serius? ”
” Saya serius ” Jawab wanita itu tegas.
” Berapa tarif yang anda minta? ”
” Setinggi tingginya..’ ‘
” Mengapa? Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
” Saya masih perawan ”
” Perawan? ” Sekarang petugas satpam itu benar benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.. Pikirnya
” Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
” Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan. Ya kan…”
” Kalau tidak terbukti?
” Tidak usah bayar …”
” Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
” Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ”
” Cobalah. ”
” Berapa tarif yang diminta? ”
” Setinggi tingginya. ”
” Berapa? ”
” Setinggi tingginya. Saya tidak tahu berapa? ”
” Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ”
Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.
Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
” Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Ini termasuk yang tertinggi, ” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
” Saya ingin yang lebih tinggi…”
” Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama sama butuh … ”
” Saya ingin tawaran tertinggi … ” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
” Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya.
Tapi sebaiknya anda ikut saya.
Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. ” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
” Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama kesekujur tubuh wanita itu …
” Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.
” Setinggi tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.
” Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
” Rp. 6 juta, tuan ”
” Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ”
Wanita itu terdiam.
Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
” Bagaimana? ” tanya pria itu.
”Saya ingin lebih tinggi lagi …” Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
” Bawa pergi wanita ini. ” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
” Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ”
” Tentu! ”
” Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”
” Saya minta yang lebih tinggi lagi …”
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
” Kalau begitu, kamu tunggu ditempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ”
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
” Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Ripiah.
Apakah itu tidak cukup? Terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika
” Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.
Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.
Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan diwajah pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ” Pak, apakah anda butuh wanita … ??? ”
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
” Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini. ” Dia masih perawan..”
Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ” Benarkah itu? ”
” Benar, pak. ”
” Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … ”
” Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”
” Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
” Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah …” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
” Mari kita bicara dikamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.
Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar …
” Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”
” Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”
” Maksud kamu? ”
” Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterimakasih …. ”
” Hanya itu …”
” Ya …! ”
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani ditengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa dihadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
” Siapa nama kamu? ”
” Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … ” Kata wanita itu
” Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”
”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”
” Ada ! Kata pria itu seketika.
” Sebutkan! ”
” Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu.
Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu kerumah sakit.
Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
” Saya tidak mengerti …”
” Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya.
Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterimakasih.
Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta.
Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terimakasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya.
Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”
” Dan, apakah bapak ikhlas…? ”
” Apakah uang itu kurang? ”
” Lebih dari cukup, pak … ”
” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”
” Silahkan …”
” Mengapa kamu begitu beraninya … ”
” Siapa bilang saya berani.
Saya takut pak …
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya kerumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu.
Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` …
Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … ”
” Keyakinan apa? ”
” Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Allah lah yang akan menjaga kehormatan kita … ” Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
” Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”
” Kesadaran… ”

Jumat, 04 Juni 2010

Tips Menjaga Keharmonisan hubungan

Punya kekasih itu memang menyenangkan, di suatu sisi kita bisa mendapatkan perhatian disaat kita membutuhkan, di sisi yang lain kita bisa belajar bertanggung jawab dan mendapatkan kasih sayang sebagai imbalannya. Setiap orang punya cerita yang berbeda-beda terhadap pasangannya. ada yang happy dan ada yang kurang menyenangkan. tergantung bagaimana masing-masing dapat menjaga apa yang telah mereka komitmentkan. seandainya kamu memliki pacar/kekasih yang sudah menjalin hubungan cukup lama, maka pastinya tidak selalu berjalan mulus. sedikit banyaknya pasti akan mengalami godaan dan permasalahan. neh buat sobat blogger ada sedikit share, bagaimana bisa menjalankan hubungan dengan seseorang itu bisa berjalan mulus dan tentram selalu.
    1. 100% harus saling percaya dan saling menjaga kepercayaan, jangan percaya setengah-setengah, karena itu hanya akan menjadi beban buat kalian berdua. dan ingat, curiga itu boleh, tapi jangan sekali kali memvonis pasangan kamu sebelum kamu mendapatkan bukti yang jelas.
    2. Mulailah dari sendiri untuk membiasakan sikap terbuka, apapun yang ada di unek-unek harus dikeluarkan, jujur mutlak diperlukan, contoh : “yank, kayaknya kamu kurang cocok deh kalau memakai baju seperti itu, ada yang lain gak", yang kemaren itu lho manis benget…”. sikaplah saling terbuka. jangan kamu paksakan menyenangi apa yang tidak kamu senangi.
    3. Menjaga perasaan masing masing pasangan, rencanakan dan buat jadwal untuk masing-masing bisa curhat mengenai perasaannya sampai saat itu, apakah ada yang berubah atau istilahnya ya..saling menilai satu sama lain. ini penting loh, karena sebagai parameter untuk menjalani kehidupan yang akan datang.
    4. Menjaga  komunikasi agar tetap utuh, minimal 1 X 24 jam harus saling memberi kabar, jangan saling menunggu kabar, karena itu tidak baik, sikap seperti itu mencerminkan keegoisan seseorang, jadi alangkah baiknya, siapa yang dahulu kasih kabar itu yang baik. dan berikan cara lain untuk menyampaikan perasaan kamu. dengan saling memuji pasangan, memberikan setangkai bunga, dan menyisipkan kado kecil yang menunjukan perasaanmu, meski cuma satu bungkus silverqueen.
    5. Kalau bisa neh, kunjungi dia minimal 4 kali sebulan. dan setiap kali pertemuan, buat acara-acara kecil yang dapat memberikan kedekatan dan kemesraan. contohnya : buat permainan teka-teki, masak indomi berdua, maen game bareng, dan yang paling penting jangan lupa item nomor 3.
    6. Ajak makan di luar sesekali, nah ini yang paling penting, jangan hanya mengandalkan satu orang, misalnya si cewe mengandalkan si cowo untuk mentraktir, kalian harus saling menutupi, nanti makan si cowo yang bayar, trus ntar nonton bioskop si cewe yang bayar, meskipun sebenarnya si cowo sanggup membayar semuanya, tapi alangkah baiknya menunjukan sikap kebersamaan dan saling mengisi. dan ingat item 2, saling terbuka, seandainya kamu tidak punya uang, ya bilang terus terang. jangan di paksain, ntar abis jalan-jalan makan sorenya ngutang tetangga, kan malu. oh ya..usahakan cari tempat makan yang romantis, tapi bukan di remang-remang, ntar makannya kemasukan binatang gak tau lagi..hihiiii
    7. Usahakan melakukan suatu hal sendiri tanpa harus memanggil pasangan untuk membantu. selagi bisa lakukanlah, usahakan jangan membuat repot pasangan kita, contoh: jangan cuma mau beli bedak, harus tepon pacar untuk antar ke supermarket, padahal jarak rumah si pacar jauh amat, belum lagi si pacar sedang tidur siang, dibanguni hanya untuk antar beli bedak. kita boleh manja, tapi jangan keterlaluan. karena dari situ akan timbul perasaan yang kurang baik.
    8. Saling menjaga dan melindungi, hal ini akan memberikan rasa tenteram buat anda dan pasangan. cara ini bukan saja untuk si cowo namun juga si cewe.
    9. Jangan bermuka murung jika di depan pasangan, jika kamu ada permasalahan seberat apapun, segeralah share dengan pasangan, jangan di pendam sendiri dan di simpan dimuka, sehingga mukanya selalu kusut. kasian tuh muka jadi korban kekesalan kita.
    10. Cari jalan keluar tanpa emosi, jika kamu ada masalah dengan pasangan kamu, api jangan dilawan dengan api, karena api akan semakin besar, tapi lawanlah dengan air, perlahan-perlahan api akan padam. yakin bo’. jangan suka ngambek atau berdiam diri mengurung diri dalam kamar.
Wah. sudah terlalu panjang neh postingan,semoga sobat semua tidak bosan membacanya. jangan lupa tinggalin komentarnya ya sob..thx

Senin, 31 Mei 2010

Kaca Spion

Recommended Reading.
Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?

Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.
Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."
Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.

Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.

Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.( Kaca Spion - Andi F Noya )

Indahnya Berbagi

Pada suatu pagi seorang filsuf bertanya kepada muridnya :

Filsuf :
Kalau seandainya saya memiliki 1 buah apel dan kamu memiliki 1 buah apel, kemudian kita tukar apel kita maka berapa banyak apel yang saya punya dan anda punya ?

Murid :
Tetap 1 buah apel guru.
Kemudian sang filsuf bertanya kembali :

Filsuf :
Sekarang kalau seandainya saya memiliki 1 buah ide dan kamu memiliki 1 buah ide, kemudian kita tukar ide kita maka berapa banyak ide yang saya punya dan anda punya ?

Murid :
Masing-masing mempunyai 2 buah ide guru.

Filsuf :
Begitulah indahnya berbagi pengetahuan dan pengalaman, bayangkan apa yang terjadi kalau semua orang mau berbagi kepada orang lain ? Setiap orang akan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berlipat-lipat jumlahnya dan tentunya semakin bijaksana-lah dia.( Indahnya Berbagi )

Minggu, 30 Mei 2010

Kisah Si gadis Buta

Terdapat seorang gadis buta yang membenci dirinya karena ia buta. Ia membenci semua orang melainkan pacarnya yang sangat mengasihinya. Ia memberitahu pacarnya, "Jika saja aku dapat melihat dunia ini, aku akan menikah dengan engkau."

Suatu hari seseorang menyumbang sepasang mata kepada gadis ini. Saat perban dibuka, gadis itu buat pertama kali dapat melihat segala sesuatu termasuk pacarnya. Pacarnya bertanya, "Sekarang engkau sudah dapat melihat dunia, sudikah kau menikah dengan aku?"

Gadis itu memandang pacarnya dan melihat bahwa ia buta. Melihat kedua kelopak matanya tertutup rapat membuatnya terkejut. Ia tidak menyangka pacarnya buta. Ia merasa tidak dapat menerima keadaan pacarnya dan hidup bersamanya seumur hidupnya, lalu ia menolak untuk menikah dengannya.

Pacarnya meninggalkan gadis itu dalam keadaan menangis dan beberapa hari kemudian meninggalkan sebuah nota bagi gadis itu:

"Rawatlah mata engkau dengan baik sayangku, karena sebelum ia menjadi milikmu, ia adalah milikku."

Siapakah yang sesungguhnya buta?


*RENUNGAN :

Hidup adalah anugerah

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar - Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu - Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu - Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidupnya

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai - Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu - Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu - Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan, dan syukuri..

Rosulullah dan Pengemis

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiapharinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya" .

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?".

* Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja".

"Apakah Itu?", tanya Abubakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana ", kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil enghardik, "Siapakah kamu ?".

Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa." "Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku" , bantah si pengemis buta itu.

"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan
perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW".Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian?

Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... "

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bolehkah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW?Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.

Kalaupun tidak boleh kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.

Pengemis yang buta itu lagikan mengetahui orang yang biasa mendatanginya selalu, tidakkan sama dari yang biasa.

Sebarkanlah riwayat ini ke sebanyak orang apabila kamu mencintai Rasulullahmu. ..

Selasa, 25 Mei 2010

Saat kesulitan menghimpit, bersabarlah

Sobat blogger semua, Saat kita menghadapi masalah. Saat kita memerlukan pertolongan, yang kita bisa lakukan selain shalat adalah bershabar. Memang ada yang lain? Usaha! Yah usaha, yang sebenarnya usaha adalah bagian dari shabar. Hanya saja usaha dalam rangka shabar lebih bermakna ketimbang hanya usaha saja yang bisa saja membuat kita frustasi. Memang, makna kesabaran bukanlah kita diam, pasrah, dan menyerah. Shabar bersanding dengan usaha bahkan dalam berbagai ayat kita temukan shabar sering disandingkan dengan kata jihad. Inilah maknanya buat kita,
Usaha/jihad + shabar = pertolongan Allah SWT 
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali 'Imraan: 200) Jadi janganlah cepat menyerah. Majulah terus, usahalah terus, sebab jika kita       shabar insya Allah, Allah SWT akan menolong kita karena ini yang diperintahkan-Nya kepada kita. Kenapa harus takut jika ada jaminan dari Allah? Kenapa harus ragu jika Allah SWT akan menolong kita? Ini bukan kata saya, ini ayat Al Quran, yang ditujukan untuk kita semua. Dengan bershabar, kita akan menjadi lebih semangat dalam menjalani hidup. Bagaimana tidak, pertolongan Allah SWT sudah di depan mata. Tinggal sejauh mana kita bisa meraih pertolongan tersebut dengan kesabaran kita.

Senin, 24 Mei 2010

Menulis Diatas pasir

Kisah tentang 2 orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya.

Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :

"HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENAMPAR PIPIKU."

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi.

Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah ia  oleh sahabatnya.Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu :

"HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU."

Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya,"Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?"

Temannya sambil tersenyum menjawab,"Ketika seorang sahabat melukai

kita,  kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila dalam antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu."

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Marilah kita belajar menulis diatas pasir!

Jumat, 21 Mei 2010

Tingginya Nilai Kasih sayang

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran:
- "Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu
    anak perempuanmu tersayang untuk makan."

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu,
tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi
berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India = curd rice). Sindu anak
yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia
sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno,
mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect".

Aku mengambil mangkok dan berkata:
- "Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd
    rice ini?
    Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah."

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis
Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata: 
- "Boleh ayah akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa
    sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..." 
    agak ragu2 sejenak... "....akan minta sesuatu sama ayah bila habis
    semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku? "

Aku menjawab: "Oh, pasti sayang".

Sindu: "Betul ayah?"

- "Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan
    dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk
tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "janji" kata
istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata:
- "Sindu, jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah,
    karena ayah saat ini tidak punya uang."

Sindu: "Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok."

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat
menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam
hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan
sesuatu yang tidak disukainya..

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata
penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju
kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu!

Istriku spontan berkata: "Permintaan gila, anak perempuan dibotakin,
                           tidak mungkin!"

Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu
banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: "Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami
                     semua akan sedih melihatmu botak."

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya: - "Tidak ada 'yah, tak ada
                                        keinginan lain."

Aku coba memohon kepada Sindu:
- "Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!"

Sindu, dengan menangis, berkata:
- "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi
    susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan
    aku. Kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? 
    Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus 
    memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti
    Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi
    janjinya raja real memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa
    anaknya sendiri."

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku: - "Janji
kita harus ditepati.."

Secara serentak istri dan ibuku berkata: - "Apakah aku sudah gila?"

Aku: "Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah
       belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu 
       permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan
bagus.

Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu
botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil
tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak: - "Sindu,
tolong tunggu saya."

Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak, aku berpikir
mungkin "botak" model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan
berkata: - "Anak anda, Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan
bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita
kanker leukemia."

Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya
mulai meleleh dipipinya:
- "Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy
kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut
diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, minggu lalu Sindu datang ke rumah
dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin
terjadi. Hanya, saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau
mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri
tuan sungguh diberkati Tuhan, mempunyai anak perempuan yang berhati
mulia."

Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat
kecilku, tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih!